Selasa, 02 Desember 2014

Keesaan ALLAH SWT

Poin pertama dalam Rukun Iman adalah beriman kepada Allah. Sementara poin pertama dalam Rukun Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, yang kalimat pertamanya berisi kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Tauhid atau keesaan Allah merupakan prinsip utama yang diajarkan oleh agama-agama yang diturunkan oleh-Nya melalui para utusan-Nya. Semua agama itu mengajak manusia untuk mengenal Allah dan menjadi orang yang tunduk, patuh, serta berserah diri kepada Allah Yang Maha Esa. Sikap tunduk, patuh, dan berserah diri kepada Allah ini adalah definisi dari islam, sementara manusianya disebut muslim. Kedua sebutan itu kemudian melekat pada ajaran dan umat Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi penutup yang ajarannya diperuntukkan manusia sampai akhir zaman.
Dalam Al-Qur’an, penekanan tentang keesaan Allah ini tercantum dalam surat al-Ikhlas ayat 1-4, yang berbunyi:
Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tumpuan harapan (tempat bergantung segala sesuatu). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
Mayoritas ulama mengatakan bahwa surat tersebut diturunkan untuk menjawab pertanyaan kaum musyrikin tentang seperti apa Tuhan yang disembah oleh Rasulullah.
Menurut M. Quraish Shihab dalam “Tafsir Al-Misbah”, keesaaan Allah swt. ini mencakup keesaan Dzat, keesaan sifat, keesaan perbuatan, dan keesaan dalam beribadah kepada-Nya.
Keesaan Dzat berarti Allah swt. berdiri sendiri, tidak terdiri dari unsur-unsur atau bagian-bagian, yang membuat-Nya tidak membutuhkan sesuatu apapun. Keesaan sifat, maksudnya sifat yang dimiliki-Nya tidak sama, baik dalam substansi maupun kapasitas, dengan sifat makhluk. Keesaan dalam perbuatan artinya, segala sesuatu di alam raya ini merupakan hasil kuasa-Nya dan tak akan terjadi tanpa izin atau kehendak-Nya.
Terakhir, sebagai perwujudan dari ketiga makna lainnya, keesaan Allah berarti keesaan dalam beribadah kepada-Nya, yang bermakna melaksanakan segala sesuatu hanya karena Allah.
Ayat-ayat selanjutnya, berdasarkan penjelasan beliau dalam buku yang sama, merupakan penguat dari ayat yang pertama. Allah swt. adalah satu-satunya tempat bergantung yang tidak memiliki ketergantungan pada siapapun, termasuk anak atau orangtua. Hanya Dia yang mampu memenuhi segala kebutuhan makhluk-Nya tanpa kesulitan atau kekurangan suatu apapun.
Allah swt. tidak memiliki keturunan dalam bentuk apapun ataupun berasal dari suatu apapun. Tidak ada satu makhluk pun, baik dalam dunia nyata maupun alam imajinasi, yang menyerupai-Nya, mendekati wujud atau kuasa-Nya, apalagi setara dengan-Nya.
Keyakinan dan pemahaman kita akan keesaan Allah ini merupakan pondasi keimanan dan keislaman kita. Ia menjadi titik awal sekaligus nyawa dari keberagamaan setiap muslim.